Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2011

Ruang

Ruang 
Membatalkan bahasa 
Riuh sunyi melambai – lambai 
Terpisahlah detak dengan denyut 
Ingin ku jadikan seirama dalam nadi 
Menjadi nada yang menahan waktu 
Namun sekarang waktu yang mengusik 
Disembunyikannya jawaban  
Lantas dengan apa ku lambai impian 
Menguji kesabaran dalam pasrah mulai cemas 
Malah, disamarkannya jalan keluar yang kuinginkan 
Izinkan ku mulai bersamaMu ya Rabbi

Pagi Ini

Pagi ini, ku paksa telingaku untuk sedikit peka 
Bersama fajar yang ranum, 
ku dengar kalamMu ya Rabbi 
Cahaya bintang mulai berpamit pulang 
Menghantarkan fajar menelisik celah – celah udara 
Menerobos jendela kamarku
“Terangi aku ya Rabbi”  
Melatar dunia yang siap ku jengkal 
Tertunduk aku dalam buai angin usil 
Menukar keramaian dengan kedamaian 
Lewat jabat hangat matahari pagi.

Senin, 12 September 2011

Malam [vs] Siang

waktu cahaya
waktu hari
waktu rupamu
setiap menit adalah waktu
mengaburkan bahasa
dibatalkannya ruang kekalahan, luas nian.
setiap menit adalah pengharap, tak berbatas
Waktu terlihat disemua tempat, di menara - menara
di langit, dibayangan malam, dibintang pagi. di musim kenangan berbuah
lalu menumpul dimataku, menggenang
mengalir kedaguku
semula memoles keraguan
setelahnya menerobos kesepian, lalu............
ah.. pantaskah ku tanyakan kembali
jadi dimanakah malam apabila datang siang??

Minggu, 11 September 2011

Time's up

"hei....."
bentak sang waktu
time 's up
aku menyesal
kupikat dia dengan dukaku
" lagi...?" katanya mengejekku
.
.
.
entah apa yang bisa aku berikan lagi
selain kesempatan yang sama

Laki - laki berkacamata


seorang lelaki
duduk pura - pura merekah
padahal aku tahu galau hatimu
walau kau tutupi di palsu sambutmu

"sini mendekat. . ." katamu
lalu kau beri aku sebuah lagu
kulihat sekilas wajammu berseri
hey..aku tidak buta
aku tahu gelisahmu itu
yang tersimpan di perhenttian bimbangmu

"kenapa diam?"
ragu?
malu?
enggan?
untuk kau datang padaku...? 

Tegak

tegak, tak bergerak
angkuh dalam jalanan sepi
kita kembali di jalanan yang sama
di ruang waktu yang sama
tapi kau tak bersuara
seolah dibatalkan oleh udara

angin tersentak
tersindir oleh rayuan derak daun
kanopi - kanopi waktu usang, berjelaga
dan begitu aku kembali
daun telah tersingkap
dan perlahan aku tahu balutan embun telah lama tertinggal
 sebentar aku kucari dia di mata yang tertegak
tapi tak ada yang tertinggal
bahkan diseluruh rintikan yang tersiangi

begitu aku pergi
kuharap dia mau kembali tiba
dengan bunga dan wanginya yang bermekaran di saf tertinggi