Selasa, 04 Desember 2012

JANGAN REMEHKAN INTUISI


Refleksi 5 Kuliah Filsafat
Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan Matematika Bilingual


Apa yang terbesit ketika mendengar kata intuisi? Mungkin sebagai besar orang menganggap bahwa intuisi remeh, spontan, anak kecil, mistik, tidak masuk akal atau mitos? Sah – sah saja orang memberikan penilaian, karena penilaian orang itu adalah relatif dan penilaian seseorang juga mencerminkan pengetahuannya. Pada pertemuan kuliah filsafat kali ini, lebih banyak membicarakan tentang intuisi, tentang mitos. Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Intuisi memang sering dikaitkan dengan cara berpikirnya anak kecil, karena ketika dewasa cara berpikir kita berubah dari sekedar intuisi menjadi lebih rasional. Tapi apakah intuisi pantas termarginalkan karena terkesan enteng? Tentu saja tidak. Berikut ini yang mungkin sedikit bisa memberikan gambaran.

Bapak Marsgit menyampaikan persoalan filsafat itu sama saja dari jaman kuno hingga sekarang. Filsafat adalah ilmu tentang olah pikir, termasuk mengkaji apa yang patut dan tidak patut untuk dipikirkan. Jika sudah bisa berfikir maka pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana kita bisa memikirkanya dan juga bagaimana cara kita berfikir. Hal – hal itu menjadi semacam konsekuensi karena manusia memang ditakdirkan untuk mempunyai akal pikiran. Tapi apakah berarti manusia itu selalu rasional? Tentu saja tidak 100%. Mitos, hal – hal semacam itu ternyata ada sejak jaman kuno hingga jaman postmodern seperti kini. Hal itu menjadi bukti bahwa hal – hal yang diluar nalar itu ada. Misalnya saja seperti mitos tentang adanya ratu pantai selatan. Bagi orang yang berpikir, bagaimana ada ratu yang hidup menguasi laut? Tapi karena menjadi mitos yang cukup mengakar di masyarakat, hal itu menjadi nomor sekian untuk dirasionalkan. Manusia akan langsung percaya begitu saja, segan untuk membicarakan, apalagi merusak “wilayah” ratu pantai selatan itu. Di situlah sisi postif dari mitos.

Perlu di pahami sebelumnya, bahwa mitos adalah melakukan pekerjaan dimana aku tidak mengerti maksudnya. Mitos jika diberi motif tertentu akan menjadi bermanfaat. Manfaat di sini tentunya tergantung kepada orang yang membuat mitos atau yang memakan mitos itu sendiri. Misalnya seorang ibu melarang anaknya untuk tidak makan di atas di tempat tidur dengan alasan akan menjelma menjadi ular. Nah, ibu tersebut sengaja membuat mitos agar kamar tetap bersih dan terhindar dari semut. Seorang anak yang terkena mitos akan melakukan hal itu tanpa melakukan proses bernalar. Bagaimna bisa manusia menjadi ular? Tapi hal itu secara tidak langsung juga akan berguna bagi si anak. Misalnya waktu tidur tidak diganggu oleh semut dan melatih kedisiplinan.

Jadi mitos sejalan dengan intuisi. 90% anak kecil belajar dari intusi. Produk berfikir dengan cara itu adalah mitos, cara berfikirnya dinamakan intuisi. Intuisi tidak bisa diremehkan begitu. Karena awal manusia belajar untuk paham tentang hal – hal disekitarnya adalah melalui intuisi. Misalnya cara membedakan besar dan kecil untuk pertama kali, membedakan sebantar dan lama, membedakan lapar dan kenyang. Betapa repotnya jika apa – apa harus rasional. Harus masuk akal dan diajarkan dari luar. Tentu anak kecil akan sulit mengerti.

Sayangnya semakain beranjak dewasa, intuisi justru semakin menipis. Kita cenderung menggunakan akal pikiran untuk bertindak sesuatu. Intuisi yang dimiliki orang seseoaran diperoleh dari interaski dri lingkungan, komunikasi dan pengalaman. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang berada dalam jajaran puncak bisnis atau orang-orang sukses lebih banyak menerapkan kekuatan intuisi dalam kehidupan keseharian mereka. Tidak jarang, intuisi yang menentukan keputusan yang mereka ambil.

Sampai saat ini dipercaya bahwa intuisi yang baik dan tajam adalah syarat agar seseorang dapat sukses dalam bisnis. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak buku-buku mengenai kiat-kiat sukses selalu memasukkan strategi mempertajam intuisi. Sebagian orang berkata bahwa intuisi itu tidak ilmiah dan tidak beralasan. Pendapat itu benar dan juga salah. Gagasan yang intuitif kreatif memang tidak ilmiah hingga Anda dapat membuktikannya. Bagaimanapun, semua ilmu pengetahuan dimulai dengan sebuah hipotesa. Dan sebuah hipotesa berasal dari mana? Hal-hal yang baik, kreatif, dan orisinil, datang karena intuisi Anda – sebuah kilatan jiwa, cahaya dari Tuhan.

Pertanyaan:
  1. Bagaimana cara mempertajam intuisi?


Minggu, 18 November 2012

MENEMBUS RUANG DAN WAKTU

Refleksi 4 Kuliah Filsafat
Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan Matematika Bilingual

MENEMBUS RUANG DAN WAKTU
Pada perkuliahan kali ini, kami belajar tentang menembus ruang dan waktu, serta bagaimana cara agar kita bisa memembus ruang dan waktu dengan cara yang canggih. Jangankan kita yang belajar filsafat, tidak sekolah, anak – anak, binatang, tumbuhan, batu pun sedang menebus ruang dan waktu. Semua mengalami masa lampu dan masa sekarang, ruang yang mudah dan ruang yang sulit. Menembus ruang dan waktu bisa saja mudah, yaitu dengan tidur. Kesempatan pun menembus ruang dan waktu. Tanpa diminta pun, waktu akan terus berjalan. Tidak bisa tidak. Tidak ada yang bisa menghentikan. Walaupun kita tertidur pun, waktu tidak akan terus berjalan tanpa menunggu kita bangun.
Tiga bekal yang dipertimbangkan agar canggih dalam menembus ruang dan waktu
1.   Paham dengan ruang dan waktu
Ruang itu ada ruang dimesnsi 0, 1, 2, 3  Sampai dengan Tak hingga. Selain itu ada normative, spiritualis, materialism, formalism. Sedangkan waktu ada yang berkelanjutan,berurutan, berkesatuan
2.   Memahami adanya tentang filsafat fenomenologi
Fenomenoligi meliputi abstraksi dan idealisasi. Sebenar – benar manusia itu abstraksi, hanya melihat satu titik atau sedikit titik tidak bisa semuanya. Sehingga harus memilih. Berfikir pun harus tentang satu hal. Apalagi berbicara, tidak bisa bersamaan. Itulah reduksi. Keterbatasan itu adalah karunia.
3.   Memahami filsafat fondasionalism dan antithesisnya
Fondasionalism berangkat dari suatu pondasi. Menetapkan definisi, aksioma, teorema dan seterusnya. Kamu fondasionalism tahu kapan sesuatu itu dimulai.tetapi lebih dari separuh di dunia ini, kita tidak tahu persis kapan di mulainya. Itulah antithesisnya dari fondasinalism, yaitu instusionalism.  Banyak hal yang dapat dimengerti dan dilaksanakan tanpa membutuhkan definisi.
Dalam perkuliahan ini saya tertarik pada bagian melupakan hal lain saat mengerjakan sesuatu. Fokuslah kini dan di sini. Saat mengerjakan sesuatu kita perlu focus. Tidak perlu memikirkan hal – hal yang mengganggu. Sesuatu yang telah lewat. Masalah – masalah lain yang tidak berkaitan di lupakan saja. Dan juga, hasil dan bagaimana nanti pun tidak perlu dipikirkan. Terlalu memikirkan hasil akan membuat kita takut gagal. Takut gagal akan membuat kita takut melangkah. Kalau kita takut melangkah maka kita menjadi tidak focus. Membuang waktu. Oleh karenanya agar bisa menembus waktu dengan canggih kita harus focus dan menyingkirkan hal – hal yang tidak berkaitan, dalam filsafat, istilah yang digunakan adalah rumah ephoce.
Hal lain yang menarik adalah tentang intuisi. Manusia kecil mengetahui intuisi waktu seperti lama, sebentar, dan juga intuisi ruang tanpa mengenal definisi terlebih dahulu, tetapi mereka tahu dengan intuisi. Pun dalam membelajarkan matematika, perlu untuk mengetahui teori perkembangan peserta didik. Matematika kadang dilakukan terlalu formal sehingga lama – lama akan menggerus kemampuan intuisi.

FILSAFAT, KINI DAN NANTI

Refleksi 3 Kuliah Filsafat
Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan Matematika Bilingual


            Pada pertemuan ketiga ini, seharusnya saya semakin mengenal filsafat. Karena filsafat tidak hanya dipelajari di dalam kelas saja, tetapi juga dengan membaca elegi – elegi yang ditulis oleh Bapak Marsigit. Namun, semakin saya mempelajari filsafat pikiran saya semakin terbuka, betapa luas jangkauan filsafat. Persoalan filsafat itu apa yang ada didalam pikiran dan yang mungkin ada dalam pikiran. Maka hal itu tak akan ada habisnya kecuali manusia kehilangan kesadarannya untuk berfikir.
            Seperti balita yang mengenal hal baru, maka kami pun penasaran dengan segala hal tentang filsafat. Terima kasih kepad Bapak yang telah menampung pertanyaan – pertanyaan kami. Mendamaikan kecemasan – kecemasan dan ketakutan – ketakutan yang muncul saat berfilsafat. Jawaban yang diberikan sangat membantu kami untuk menambah pengetahuan dan dimensi berpikir.
            Dari sekian banyak pertanyaan yang terlontar, saya tertarik dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan filsafat. Kapan kita bisa memulai berfilsafat? Pak Marsigit menjelaskan bahwa filsafat akan baik apabila pikiran kita jernih (pure) dan juga hati kita bebas dari gangguan. Filsafat dilakukan secara kontinue. Terus menerus hingga mencapai suatu harmoni. Itulah tujuan hidup. Mencapai keseimbangan dalam segala aspek.
            Komponen filsafat terdiri dari pengalaman dan olah pikir. Keduanya merupakan modal untuk berfilsafat. seberapa dalam pemikiran kita, seberapa jernih pemikiran kita, tergantung dari kedalaman kita berpikir dan pengalaman kita. Memang banyaknya pengalaman yang dimiliki setiap manusia itu hampir sama banyaknya. Yang membedakan apakan pengalaman itu menjadi bermakna atau tidak adalah dengan memikirkannya. Setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup kita sebaiknya dipikirkan. Dicari hikmahnya. Diperbaiki. Ditingkatkan kualitasnya. Hingga kita menggapai keharmonisan. Itulah hidup.
             Namun, seberapa kuatnya manusia berusaha, manusia hanya bisa menggapai, karena kemultakan itu hanya milik Tuhan. Manusia memang memiliki keterbatasan, tetapi selama manusia bisa terus continue berikhtiar maka manusia akan mencapai level yang lebih tinggi. Hidup sendiri adalah tentang mengubah yang mungki menjadi ada. Mengubah mimpi menjadi nyata. Dan itu akan didapatkan dengan usaha yang ikhlas, continue dan sungguh – sungguh.
            Pertanyaan kedua yang menarik menurut saya tentang bagaimana cara untuk adil? Ya, manusia mendamba keadilan. Entah menuntut keadilan dari Tuhan atau dari orang lain. Padalah tanpa disadari bahwa ketidakadilan itu terus mengikuti manusia hingga mati. Bapak Marsigit menjelaskan dengan cara yang mengena. Mengapa kita lahir dari rahim ibu A? bukan ibu B? mengapa manusia hanya bisa melihat apa yang ada didepannya? Bukankah depan-belakang ini mempuanyai hak yang sama untuk dipandang? Itulah ketidakadilan.
Lalu mengapa kita kerap menuntut adil? Padahal manusia bisa hidup karena ketidakadilan. Tugas manusia adalah berusaha untuk adil, tanpa bisa mencapai adil itu sendiri. Karena adil yang multak hanyalah milik Tuhan. Sekali lagi, manusia hanya berikhtiar hingga menggapai keharmonisan hidup.

MENGGAPAI HARMONI HIDUP DENGAN FILSAFAT


Refleksi 2 Kuliah Filsafat
Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan Matematika Bilingual

            Pada pertemuan kedua ini, seharusnya saya semakin mengenal filsafat. Karena filsafat tidak hanya dipelajari di dalam kelas saja, tetapi juga dengan membaca elegi – elegi yang ditulis oleh Bapak Marsigit. Namun, semakin saya mempelajari filsafat pikiran saya semakin terbuka, betapa luas jangkauan filsafat. Persoalan filsafat itu apa yang ada didalam pikiran dan yang mungkin ada dalam pikiran. Maka hal itu tak akan ada habisnya kecuali manusia kehilangan kesadarannya untuk berfikir.
            Seperti balita yang mengenal hal baru, maka kami pun penasaran dengan segala hal tentang filsafat. Terima kasih kepad Bapak yang telah menampung pertanyaan – pertanyaan kami. Mendamaikan kecemasan – kecemasan dan ketakutan – ketakutan yang muncul saat berfilsafat. Jawaban yang diberikan sangat membantu kami untuk menambah pengetahuan dan dimensi berpikir.
            Dari sekian banyak pertanyaan yang terlontar, saya tertarik dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan filsafat. Kapan kita bisa memulai berfilsafat? Pak Marsigit menjelaskan bahwa filsafat akan baik apabila pikiran kita jernih (pure) dan juga hati kita bebas dari gangguan. Filsafat dilakukan secara kontinue. Terus menerus hingga mencapai suatu harmoni. Itulah tujuan hidup. Mencapai keseimbangan dalam segala aspek.
            Komponen filsafat terdiri dari pengalaman dan olah pikir. Keduanya merupakan modal untuk berfilsafat. seberapa dalam pemikiran kita, seberapa jernih pemikiran kita, tergantung dari kedalaman kita berpikir dan pengalaman kita. Memang banyaknya pengalaman yang dimiliki setiap manusia itu hampir sama banyaknya. Yang membedakan apakan pengalaman itu menjadi bermakna atau tidak adalah dengan memikirkannya. Setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup kita sebaiknya dipikirkan. Dicari hikmahnya. Diperbaiki. Ditingkatkan kualitasnya. Hingga kita menggapai keharmonisan. Itulah hidup.
             Namun, seberapa kuatnya manusia berusaha, manusia hanya bisa menggapai, karena kemultakan itu hanya milik Tuhan. Manusia memang memiliki keterbatasan, tetapi selama manusia bisa terus continue berikhtiar maka manusia akan mencapai level yang lebih tinggi. Hidup sendiri adalah tentang mengubah yang mungki menjadi ada. Mengubah mimpi menjadi nyata. Dan itu akan didapatkan dengan usaha yang ikhlas, continue dan sungguh – sungguh.
            Pertanyaan kedua yang menarik menurut saya tentang bagaimana cara untuk adil? Ya, manusia mendamba keadilan. Entah menuntut keadilan dari Tuhan atau dari orang lain. Padalah tanpa disadari bahwa ketidakadilan itu terus mengikuti manusia hingga mati. Bapak Marsigit menjelaskan dengan cara yang mengena. Mengapa kita lahir dari rahim ibu A? bukan ibu B? mengapa manusia hanya bisa melihat apa yang ada didepannya? Bukankah depan-belakang ini mempuanyai hak yang sama untuk dipandang? Itulah ketidakadilan.
Lalu mengapa kita kerap menuntut adil? Padahal manusia bisa hidup karena ketidakadilan. Tugas manusia adalah berusaha untuk adil, tanpa bisa mencapai adil itu sendiri. Karena adil yang multak hanyalah milik Tuhan. Sekali lagi, manusia hanya berikhtiar hingga menggapai keharmonisan hidup.

Sabtu, 29 September 2012

Keberuntungan

Terkadang keberuntungan memang mengherankan. Datang tanpa diduga, tak disangka. Kalo datang kepada diri kita, maka kita menjadi begitu bahagia. Tetapi bila jatuh ketangan orang lain terasa ugghhhh menyebalkan (ups, aku gag tau istilah tepatnya), apalagi bila kita merasa telah melebihkan usaha dibanding dengan orang yang beruntung itu.

Tapi benar gag sih?

Keberuntungan, pada akhirnya kadang datang tanpa kita sadari . Jane sebenarnya kita tuh beruntung, tapi gag sadar. Kadang juga kita baru sadar ketika titik keberuntungan itu lewat. [Biasanya berakhir menyesal, huhu]. Atau malah yang melihat keberuntungan kita itu justru malah orang lain, kita mah gag ngrasa kalo itu keberuntungan.

Jadi gimana sih?

Haha, Aku juga gag yakin sih. Tapi menurutku keberuntungan pun bisa  perlu diusahakan.
Kemudahan – kemudahan yang datang tanpa terduga (yang kadang aku samakan anggap sebagai keberuntungan), mungkin bisa terjadi karena berbagai faktor. Faktor x. entah apa itu. sekarang gag masuk akal. tapi begitu titik keberuntungan telah lewat, baru kita tahu. Oh karena itu, ow begitu.
Menurutku lagi Faktor yang paling besar dari perbuatan kita. Rajin ibadah, baik hati, murah senyum, bermanfaat bagi orang lain. Jadinya banyak yang mendoakan. Alloh pun sayang sama kita.Jadi mengalir lah kemudahan – kemudahan.
 
Nah, tu kan. Hehe

Saat kita merasa keberuntungan tak pernah jarang menghampiri kita. Maka lihat lah lagi, jangan – jangan kita yang belum bisa melihat keberuntungan yang sebenarnya sering datang pada diri kita. Atau mungkin perlukan usaha yang lebih lagi agar kemudahan – kemudahan selalu datang. ^_^

*Ku tulis ini saat menginginkan keberuntungan yang dimiliki oleh orang lain. : D

Selasa, 25 September 2012

Komentar elegi Part 2



Ketakutan, keraguan, keseganan, kebingungan, ya mungkin memang hal - hal itu yang kerap ada saat kita ingin memulai berfilsafat. Termasuk saya sendiri, yang baru mengenal apa itu filsafat secara lebih formal. Walau selama hidup, mungkin tanpa di sadari kita pun pernah atau sering atau malah selalu berfilsafat.Entah itu karena diniatkan, entah karena tidak sengaja atau karena justru mengalir begitu saja.

Tapi, bukan berarti kita menjadi berhenti mencoba. Menjadi diam dan menunggu kapan keraguan dan ketakutan itu hilang. Karena jika kita berhenti maka dimensi kita tidak pernah bertambah. Lalu, saya setuju berfilsafat itu adalah proses yang kontinue, tidak sekali hentak lalu berhenti.Pikiran kita sendiri saja jika dituruti akan terus mengembara. Oleh karenanya kita perlu kontrol, berupa hati yang dapat memandu.

Selain itu berfilsafat itu tidak cukup dengan pikiran kita sendiri. kita pun perlu membuka mata dan berusaha memahami pemikiran - pemikiran oran lain. Oleh karenanya saya berterimakasih sekali dengan adanya blog ini. Sehingga kita yang masih awan dapat belajar bersama. Saling bertukar pikir dan saling merefleksi diri.

Terkhusus saya ingin menyampaikan pertanyaan. Telah dikatakan oleh Pak Marsgit bahwa kita perlu hati sebagai komandan. Dan tentunya hati yang bebas dari 'gangguan' atau hati yang bersih. Lalu kapankah kita bisa meyakini bahwa hati kita sudah benar - benar terbebas dari gangguan / bersih?
Demikian pak, Mohon koreksinya apabila ada kesalahan. Terimakasih.