Minggu, 18 November 2012

MENEMBUS RUANG DAN WAKTU

Refleksi 4 Kuliah Filsafat
Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan Matematika Bilingual

MENEMBUS RUANG DAN WAKTU
Pada perkuliahan kali ini, kami belajar tentang menembus ruang dan waktu, serta bagaimana cara agar kita bisa memembus ruang dan waktu dengan cara yang canggih. Jangankan kita yang belajar filsafat, tidak sekolah, anak – anak, binatang, tumbuhan, batu pun sedang menebus ruang dan waktu. Semua mengalami masa lampu dan masa sekarang, ruang yang mudah dan ruang yang sulit. Menembus ruang dan waktu bisa saja mudah, yaitu dengan tidur. Kesempatan pun menembus ruang dan waktu. Tanpa diminta pun, waktu akan terus berjalan. Tidak bisa tidak. Tidak ada yang bisa menghentikan. Walaupun kita tertidur pun, waktu tidak akan terus berjalan tanpa menunggu kita bangun.
Tiga bekal yang dipertimbangkan agar canggih dalam menembus ruang dan waktu
1.   Paham dengan ruang dan waktu
Ruang itu ada ruang dimesnsi 0, 1, 2, 3  Sampai dengan Tak hingga. Selain itu ada normative, spiritualis, materialism, formalism. Sedangkan waktu ada yang berkelanjutan,berurutan, berkesatuan
2.   Memahami adanya tentang filsafat fenomenologi
Fenomenoligi meliputi abstraksi dan idealisasi. Sebenar – benar manusia itu abstraksi, hanya melihat satu titik atau sedikit titik tidak bisa semuanya. Sehingga harus memilih. Berfikir pun harus tentang satu hal. Apalagi berbicara, tidak bisa bersamaan. Itulah reduksi. Keterbatasan itu adalah karunia.
3.   Memahami filsafat fondasionalism dan antithesisnya
Fondasionalism berangkat dari suatu pondasi. Menetapkan definisi, aksioma, teorema dan seterusnya. Kamu fondasionalism tahu kapan sesuatu itu dimulai.tetapi lebih dari separuh di dunia ini, kita tidak tahu persis kapan di mulainya. Itulah antithesisnya dari fondasinalism, yaitu instusionalism.  Banyak hal yang dapat dimengerti dan dilaksanakan tanpa membutuhkan definisi.
Dalam perkuliahan ini saya tertarik pada bagian melupakan hal lain saat mengerjakan sesuatu. Fokuslah kini dan di sini. Saat mengerjakan sesuatu kita perlu focus. Tidak perlu memikirkan hal – hal yang mengganggu. Sesuatu yang telah lewat. Masalah – masalah lain yang tidak berkaitan di lupakan saja. Dan juga, hasil dan bagaimana nanti pun tidak perlu dipikirkan. Terlalu memikirkan hasil akan membuat kita takut gagal. Takut gagal akan membuat kita takut melangkah. Kalau kita takut melangkah maka kita menjadi tidak focus. Membuang waktu. Oleh karenanya agar bisa menembus waktu dengan canggih kita harus focus dan menyingkirkan hal – hal yang tidak berkaitan, dalam filsafat, istilah yang digunakan adalah rumah ephoce.
Hal lain yang menarik adalah tentang intuisi. Manusia kecil mengetahui intuisi waktu seperti lama, sebentar, dan juga intuisi ruang tanpa mengenal definisi terlebih dahulu, tetapi mereka tahu dengan intuisi. Pun dalam membelajarkan matematika, perlu untuk mengetahui teori perkembangan peserta didik. Matematika kadang dilakukan terlalu formal sehingga lama – lama akan menggerus kemampuan intuisi.

FILSAFAT, KINI DAN NANTI

Refleksi 3 Kuliah Filsafat
Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan Matematika Bilingual


            Pada pertemuan ketiga ini, seharusnya saya semakin mengenal filsafat. Karena filsafat tidak hanya dipelajari di dalam kelas saja, tetapi juga dengan membaca elegi – elegi yang ditulis oleh Bapak Marsigit. Namun, semakin saya mempelajari filsafat pikiran saya semakin terbuka, betapa luas jangkauan filsafat. Persoalan filsafat itu apa yang ada didalam pikiran dan yang mungkin ada dalam pikiran. Maka hal itu tak akan ada habisnya kecuali manusia kehilangan kesadarannya untuk berfikir.
            Seperti balita yang mengenal hal baru, maka kami pun penasaran dengan segala hal tentang filsafat. Terima kasih kepad Bapak yang telah menampung pertanyaan – pertanyaan kami. Mendamaikan kecemasan – kecemasan dan ketakutan – ketakutan yang muncul saat berfilsafat. Jawaban yang diberikan sangat membantu kami untuk menambah pengetahuan dan dimensi berpikir.
            Dari sekian banyak pertanyaan yang terlontar, saya tertarik dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan filsafat. Kapan kita bisa memulai berfilsafat? Pak Marsigit menjelaskan bahwa filsafat akan baik apabila pikiran kita jernih (pure) dan juga hati kita bebas dari gangguan. Filsafat dilakukan secara kontinue. Terus menerus hingga mencapai suatu harmoni. Itulah tujuan hidup. Mencapai keseimbangan dalam segala aspek.
            Komponen filsafat terdiri dari pengalaman dan olah pikir. Keduanya merupakan modal untuk berfilsafat. seberapa dalam pemikiran kita, seberapa jernih pemikiran kita, tergantung dari kedalaman kita berpikir dan pengalaman kita. Memang banyaknya pengalaman yang dimiliki setiap manusia itu hampir sama banyaknya. Yang membedakan apakan pengalaman itu menjadi bermakna atau tidak adalah dengan memikirkannya. Setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup kita sebaiknya dipikirkan. Dicari hikmahnya. Diperbaiki. Ditingkatkan kualitasnya. Hingga kita menggapai keharmonisan. Itulah hidup.
             Namun, seberapa kuatnya manusia berusaha, manusia hanya bisa menggapai, karena kemultakan itu hanya milik Tuhan. Manusia memang memiliki keterbatasan, tetapi selama manusia bisa terus continue berikhtiar maka manusia akan mencapai level yang lebih tinggi. Hidup sendiri adalah tentang mengubah yang mungki menjadi ada. Mengubah mimpi menjadi nyata. Dan itu akan didapatkan dengan usaha yang ikhlas, continue dan sungguh – sungguh.
            Pertanyaan kedua yang menarik menurut saya tentang bagaimana cara untuk adil? Ya, manusia mendamba keadilan. Entah menuntut keadilan dari Tuhan atau dari orang lain. Padalah tanpa disadari bahwa ketidakadilan itu terus mengikuti manusia hingga mati. Bapak Marsigit menjelaskan dengan cara yang mengena. Mengapa kita lahir dari rahim ibu A? bukan ibu B? mengapa manusia hanya bisa melihat apa yang ada didepannya? Bukankah depan-belakang ini mempuanyai hak yang sama untuk dipandang? Itulah ketidakadilan.
Lalu mengapa kita kerap menuntut adil? Padahal manusia bisa hidup karena ketidakadilan. Tugas manusia adalah berusaha untuk adil, tanpa bisa mencapai adil itu sendiri. Karena adil yang multak hanyalah milik Tuhan. Sekali lagi, manusia hanya berikhtiar hingga menggapai keharmonisan hidup.

MENGGAPAI HARMONI HIDUP DENGAN FILSAFAT


Refleksi 2 Kuliah Filsafat
Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan Matematika Bilingual

            Pada pertemuan kedua ini, seharusnya saya semakin mengenal filsafat. Karena filsafat tidak hanya dipelajari di dalam kelas saja, tetapi juga dengan membaca elegi – elegi yang ditulis oleh Bapak Marsigit. Namun, semakin saya mempelajari filsafat pikiran saya semakin terbuka, betapa luas jangkauan filsafat. Persoalan filsafat itu apa yang ada didalam pikiran dan yang mungkin ada dalam pikiran. Maka hal itu tak akan ada habisnya kecuali manusia kehilangan kesadarannya untuk berfikir.
            Seperti balita yang mengenal hal baru, maka kami pun penasaran dengan segala hal tentang filsafat. Terima kasih kepad Bapak yang telah menampung pertanyaan – pertanyaan kami. Mendamaikan kecemasan – kecemasan dan ketakutan – ketakutan yang muncul saat berfilsafat. Jawaban yang diberikan sangat membantu kami untuk menambah pengetahuan dan dimensi berpikir.
            Dari sekian banyak pertanyaan yang terlontar, saya tertarik dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan filsafat. Kapan kita bisa memulai berfilsafat? Pak Marsigit menjelaskan bahwa filsafat akan baik apabila pikiran kita jernih (pure) dan juga hati kita bebas dari gangguan. Filsafat dilakukan secara kontinue. Terus menerus hingga mencapai suatu harmoni. Itulah tujuan hidup. Mencapai keseimbangan dalam segala aspek.
            Komponen filsafat terdiri dari pengalaman dan olah pikir. Keduanya merupakan modal untuk berfilsafat. seberapa dalam pemikiran kita, seberapa jernih pemikiran kita, tergantung dari kedalaman kita berpikir dan pengalaman kita. Memang banyaknya pengalaman yang dimiliki setiap manusia itu hampir sama banyaknya. Yang membedakan apakan pengalaman itu menjadi bermakna atau tidak adalah dengan memikirkannya. Setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup kita sebaiknya dipikirkan. Dicari hikmahnya. Diperbaiki. Ditingkatkan kualitasnya. Hingga kita menggapai keharmonisan. Itulah hidup.
             Namun, seberapa kuatnya manusia berusaha, manusia hanya bisa menggapai, karena kemultakan itu hanya milik Tuhan. Manusia memang memiliki keterbatasan, tetapi selama manusia bisa terus continue berikhtiar maka manusia akan mencapai level yang lebih tinggi. Hidup sendiri adalah tentang mengubah yang mungki menjadi ada. Mengubah mimpi menjadi nyata. Dan itu akan didapatkan dengan usaha yang ikhlas, continue dan sungguh – sungguh.
            Pertanyaan kedua yang menarik menurut saya tentang bagaimana cara untuk adil? Ya, manusia mendamba keadilan. Entah menuntut keadilan dari Tuhan atau dari orang lain. Padalah tanpa disadari bahwa ketidakadilan itu terus mengikuti manusia hingga mati. Bapak Marsigit menjelaskan dengan cara yang mengena. Mengapa kita lahir dari rahim ibu A? bukan ibu B? mengapa manusia hanya bisa melihat apa yang ada didepannya? Bukankah depan-belakang ini mempuanyai hak yang sama untuk dipandang? Itulah ketidakadilan.
Lalu mengapa kita kerap menuntut adil? Padahal manusia bisa hidup karena ketidakadilan. Tugas manusia adalah berusaha untuk adil, tanpa bisa mencapai adil itu sendiri. Karena adil yang multak hanyalah milik Tuhan. Sekali lagi, manusia hanya berikhtiar hingga menggapai keharmonisan hidup.