Refleksi
5 Kuliah Filsafat
Wahyu
Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan
Matematika Bilingual
Apa
yang terbesit ketika mendengar kata intuisi? Mungkin sebagai besar
orang menganggap bahwa intuisi remeh, spontan, anak kecil, mistik,
tidak masuk akal atau mitos? Sah – sah saja orang memberikan
penilaian, karena penilaian orang itu adalah relatif dan penilaian
seseorang juga mencerminkan pengetahuannya. Pada pertemuan kuliah
filsafat kali ini, lebih banyak membicarakan tentang intuisi,
tentang mitos. Intuisi adalah
istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran
rasional dan intelektualitas. Intuisi memang sering dikaitkan dengan
cara berpikirnya anak kecil, karena ketika dewasa cara berpikir kita
berubah dari sekedar intuisi menjadi lebih rasional. Tapi apakah
intuisi pantas termarginalkan karena terkesan enteng? Tentu saja
tidak. Berikut ini yang mungkin sedikit bisa memberikan gambaran.
Bapak
Marsgit menyampaikan persoalan filsafat itu sama saja dari jaman kuno
hingga sekarang. Filsafat adalah ilmu tentang olah pikir, termasuk
mengkaji apa yang patut dan tidak patut untuk dipikirkan. Jika sudah
bisa berfikir maka pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana kita
bisa memikirkanya dan juga bagaimana cara kita berfikir. Hal – hal
itu menjadi semacam konsekuensi karena manusia memang ditakdirkan
untuk mempunyai akal pikiran. Tapi apakah berarti manusia itu selalu
rasional? Tentu saja tidak 100%. Mitos, hal – hal semacam itu
ternyata ada sejak jaman kuno hingga jaman postmodern seperti kini.
Hal itu menjadi bukti bahwa hal – hal yang diluar nalar itu ada.
Misalnya saja seperti mitos tentang adanya ratu pantai selatan. Bagi
orang yang berpikir, bagaimana ada ratu yang hidup menguasi laut?
Tapi karena menjadi mitos yang cukup mengakar di masyarakat, hal itu
menjadi nomor sekian untuk dirasionalkan. Manusia akan langsung
percaya begitu saja, segan untuk membicarakan, apalagi merusak
“wilayah” ratu pantai selatan itu. Di situlah sisi postif dari
mitos.
Perlu
di pahami sebelumnya, bahwa mitos adalah melakukan pekerjaan dimana
aku tidak mengerti maksudnya. Mitos jika diberi motif tertentu akan
menjadi bermanfaat. Manfaat di sini tentunya tergantung kepada orang
yang membuat mitos atau yang memakan mitos itu sendiri. Misalnya
seorang ibu melarang anaknya untuk tidak makan di atas di tempat
tidur dengan alasan akan menjelma menjadi ular. Nah, ibu tersebut
sengaja membuat mitos agar kamar tetap bersih dan terhindar dari
semut. Seorang anak yang terkena mitos akan melakukan hal itu tanpa
melakukan proses bernalar. Bagaimna bisa manusia menjadi ular? Tapi
hal itu secara tidak langsung juga akan berguna bagi si anak.
Misalnya waktu tidur tidak diganggu oleh semut dan melatih
kedisiplinan.
Jadi
mitos sejalan dengan intuisi. 90% anak kecil belajar dari intusi.
Produk berfikir dengan cara itu adalah mitos, cara berfikirnya
dinamakan intuisi. Intuisi tidak bisa diremehkan begitu. Karena awal
manusia belajar untuk paham tentang hal – hal disekitarnya adalah
melalui intuisi. Misalnya cara membedakan besar dan kecil untuk
pertama kali, membedakan sebantar dan lama, membedakan lapar dan
kenyang. Betapa repotnya jika apa – apa harus rasional. Harus masuk
akal dan diajarkan dari luar. Tentu anak kecil akan sulit mengerti.
Sayangnya
semakain beranjak dewasa, intuisi justru semakin menipis. Kita
cenderung menggunakan akal pikiran untuk bertindak sesuatu. Intuisi
yang dimiliki orang seseoaran diperoleh dari interaski dri
lingkungan, komunikasi dan pengalaman. Sebuah penelitian menunjukkan
bahwa orang-orang yang berada dalam jajaran puncak bisnis atau
orang-orang sukses lebih banyak menerapkan kekuatan intuisi dalam
kehidupan keseharian mereka. Tidak jarang, intuisi yang menentukan
keputusan yang mereka ambil.
Sampai
saat ini dipercaya bahwa intuisi yang baik dan tajam adalah syarat
agar seseorang dapat sukses dalam bisnis. Oleh karena itu tidak
mengherankan jika banyak buku-buku mengenai kiat-kiat sukses selalu
memasukkan strategi mempertajam intuisi. Sebagian
orang berkata bahwa intuisi itu tidak ilmiah dan tidak beralasan.
Pendapat itu benar dan juga salah. Gagasan yang intuitif kreatif
memang tidak ilmiah hingga Anda dapat membuktikannya. Bagaimanapun,
semua ilmu pengetahuan dimulai dengan sebuah hipotesa. Dan sebuah
hipotesa berasal dari mana? Hal-hal yang baik, kreatif, dan orisinil,
datang karena intuisi Anda – sebuah kilatan jiwa, cahaya dari
Tuhan.
Pertanyaan:
- Bagaimana cara mempertajam intuisi?
kalau untuk saya pribadi biasanya dengan cara menenangkan diri ukh,dengan memenangkan diri sejenak juga membuat saya akan menangkap ide-ide intuitif yang benar dan tangguh di saat kita memerlukannya.
BalasHapusNice Post :-)
Wab bisa di coba tuh. :D
Hapusiya silahkan dicoba hehe
BalasHapusinsyaAllah saya posting tentang intuisi