Setelah membaca elegi
diatas, saya menangkap beberapa hal yang dapat dijadikan renungan. Bahwa segala
sesuatu hal bisa dikaitkan dengan hal lain. Dalam konteks diatas adalah
perkataan setan yang selalu dikaitkan dengan matematika. Selain itu segala hal
pun dapat bermakna ganda. Tergantung bagaimana kita memandang. Kata - kata
seperti ‘aneh’ ‘menyeramkan’ ‘banyak sekali’ menurut setan adalah hal seram.
Sementara metematikawan memaknai kata – kata tersebut dengan lain, dan bertolak
belakang dengan setan.
Bagi saya, ini
merupakan pelajaran tersendiri untuk mengabaikan hal – hal negatif yang dapat
menciutkan nyali atau pikiran kita. Kita sendirilah yang memilah dan memilih
mana hal yang perlu didengarkan atau yang tidak. Demikian Pak, mohon
tanggapannya dan koreksi apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.
Setelah saya membaca
elegi diatas, ada beberapa hal yang dapat saya tangkap. Setiap kita mencari
ilmu, setiap kita berfilsafat, ada beberapa kendala yang membuat kita terjebak.
Antara lain jebakan keikhlasan, jebakan kesadaran, jebakan ruang dan waktu,
jebakan perhatian dan lain – lain. Jebakan itu terjadi saat kita tidak jujur,
atau saat kita mengingkari dan berpura – pura. Maka sebenarnya jebakan –
jebakan diatas berasal dari diri kita sendiri. Namun tak berarti kita takut
untuk bergerak, takut untuk mencari ilmu. Karena diam atau berhenti berarti kita
tidak bisa meningkatkan dimensi dan kapasitas diri. Demikian Pak, mohon
tanggapannya dan koreksi apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.
3. Menyesali Rumahku yang Terlalu Besar
Jika saya boleh
memaknai sendiri. Rumah yang ada di elegi di atas saya analogikan sebagai diri
kita sendiri, manusia. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibandingkan
dengan makhluk lainnya. Manusia lahir dengan dianugrahi ‘fasilitas’ yang
lengkap berupa fisik, panca indra, akal pikiran, nafsu dan hati. Semua ini
apabila dimanfaatkan dengan baik akan menguntungkan bagi pemiliknya. Oleh
karenanya ‘fasilitas’ yang telah diberikan ini hendaknya dirawat oleh
pemiliknya. Semakin besar fasilitas itu kita manfaatkan untuk berfikir, bekerja
maka semakin besar pula kebutuhan untuk merawatnya. Demikian Pak, mohon tanggapannya dan koreksi
apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.
Elegi benar- benar bisa
dijadikan bahan renungan kita semua. Betapa ilmu pengetahuan itu sangat penting
untuk dicari, agar kita tahu bagaimana caranya menggapai sesuatu. Segala hal
didunia dan akhirat memerlukan ilmu dan pengetahuan, seperti keinginan
memandang wajah Rosullallah. Dan lagi, satu, dua tahun tidak cukup untuk
menuntut ilmu. Belasan atau puluhan tahun pun belum cukup. Perlu seumur hidup
untuk belajar. Saya terinspirasi karena Bapak, bahwa kita tidak boleh cepat
puas dalam menuntut ilmu. Seperti Tak cukup untuk hapal kata – kata syahadat,
lebih dari itu ternyata ada makna yang luas dan dalam. Maka terus belajar,
belajar, baik itu yang tersirat atau yang tersurat.
Semoga keinginan Bapak
dikabulkan. Semoga kita menjadi lebih baik, segalanya. Amin. Demikian Pak,
mohon tanggapannya dan koreksi apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.
Saya percaya bahwa
semua hal diciptakan bersama pasangannya. Seperti awal yang pasangannya adalah
akhir. Dan akhir pasangannya adalah awal. Seperti dalam kehidupan ini. Selalu
ada awal dan ada akhir. Ada permulaan dan ada usai. Tidak ada segala kejadian yang
tanpa akhir. Atau tanpa awal. Walaupun saya tidak bisa membuktikan semua. Tapi
hati saya mempercayainya. Dan hal itu membuat saya ber-positif thinking bahwa tidak ada ssuatu yang kekal, kecuali Alloh.
Tidak ada derita yang kekal, tidak ada kesulitan tanpa akhir. Sehingga kita
menjadi lebih optimis untuk berusaha saat menemui kesulitan.
Awal dan akhir dunia,
jelas ada. Namum jangan paksa pikiran untuk menentukan kedua waktu itu. karena
itu adalah rahasiaNya. Dan tugas kita adalah mengisi ruang – ruang diantara
awal dan akhir dengan sebaik – baiknya. Demikian Pak, mohon tanggapannya dan
koreksi apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Speak Up