Selasa, 25 September 2012

Komentar Elegi Part 1


Setelah membaca elegi diatas, saya menangkap beberapa hal yang dapat dijadikan renungan. Bahwa segala sesuatu hal bisa dikaitkan dengan hal lain. Dalam konteks diatas adalah perkataan setan yang selalu dikaitkan dengan matematika. Selain itu segala hal pun dapat bermakna ganda. Tergantung bagaimana kita memandang. Kata - kata seperti ‘aneh’ ‘menyeramkan’ ‘banyak sekali’ menurut setan adalah hal seram. Sementara metematikawan memaknai kata – kata tersebut dengan lain, dan bertolak belakang dengan setan.
Bagi saya, ini merupakan pelajaran tersendiri untuk mengabaikan hal – hal negatif yang dapat menciutkan nyali atau pikiran kita. Kita sendirilah yang memilah dan memilih mana hal yang perlu didengarkan atau yang tidak. Demikian Pak, mohon tanggapannya dan koreksi apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.

Setelah saya membaca elegi diatas, ada beberapa hal yang dapat saya tangkap. Setiap kita mencari ilmu, setiap kita berfilsafat, ada beberapa kendala yang membuat kita terjebak. Antara lain jebakan keikhlasan, jebakan kesadaran, jebakan ruang dan waktu, jebakan perhatian dan lain – lain. Jebakan itu terjadi saat kita tidak jujur, atau saat kita mengingkari dan berpura – pura. Maka sebenarnya jebakan – jebakan diatas berasal dari diri kita sendiri. Namun tak berarti kita takut untuk bergerak, takut untuk mencari ilmu. Karena diam atau berhenti berarti kita tidak bisa meningkatkan dimensi dan kapasitas diri. Demikian Pak, mohon tanggapannya dan koreksi apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.

      3. Menyesali Rumahku yang Terlalu Besar

Jika saya boleh memaknai sendiri. Rumah yang ada di elegi di atas saya analogikan sebagai diri kita sendiri, manusia. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia lahir dengan dianugrahi ‘fasilitas’ yang lengkap berupa fisik, panca indra, akal pikiran, nafsu dan hati. Semua ini apabila dimanfaatkan dengan baik akan menguntungkan bagi pemiliknya. Oleh karenanya ‘fasilitas’ yang telah diberikan ini hendaknya dirawat oleh pemiliknya. Semakin besar fasilitas itu kita manfaatkan untuk berfikir, bekerja maka semakin besar pula kebutuhan untuk merawatnya.  Demikian Pak, mohon tanggapannya dan koreksi apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.


Elegi benar- benar bisa dijadikan bahan renungan kita semua. Betapa ilmu pengetahuan itu sangat penting untuk dicari, agar kita tahu bagaimana caranya menggapai sesuatu. Segala hal didunia dan akhirat memerlukan ilmu dan pengetahuan, seperti keinginan memandang wajah Rosullallah. Dan lagi, satu, dua tahun tidak cukup untuk menuntut ilmu. Belasan atau puluhan tahun pun belum cukup. Perlu seumur hidup untuk belajar. Saya terinspirasi karena Bapak, bahwa kita tidak boleh cepat puas dalam menuntut ilmu. Seperti Tak cukup untuk hapal kata – kata syahadat, lebih dari itu ternyata ada makna yang luas dan dalam. Maka terus belajar, belajar, baik itu yang tersirat atau yang tersurat.
Semoga keinginan Bapak dikabulkan. Semoga kita menjadi lebih baik, segalanya. Amin. Demikian Pak, mohon tanggapannya dan koreksi apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.

Saya percaya bahwa semua hal diciptakan bersama pasangannya. Seperti awal yang pasangannya adalah akhir. Dan akhir pasangannya adalah awal. Seperti dalam kehidupan ini. Selalu ada awal dan ada akhir. Ada permulaan dan ada usai. Tidak ada segala kejadian yang tanpa akhir. Atau tanpa awal. Walaupun saya tidak bisa membuktikan semua. Tapi hati saya mempercayainya. Dan hal itu membuat saya ber-positif thinking bahwa tidak ada ssuatu yang kekal, kecuali Alloh. Tidak ada derita yang kekal, tidak ada kesulitan tanpa akhir. Sehingga kita menjadi lebih optimis untuk berusaha saat menemui kesulitan.
Awal dan akhir dunia, jelas ada. Namum jangan paksa pikiran untuk menentukan kedua waktu itu. karena itu adalah rahasiaNya. Dan tugas kita adalah mengisi ruang – ruang diantara awal dan akhir dengan sebaik – baiknya. Demikian Pak, mohon tanggapannya dan koreksi apabila ada hal yang tidak tepat. Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Speak Up