REFLEKSI
1- [Kuliah Dr. Marsigit]
Oleh : Wahyu Ramadhani Aji
09301241043
P.Mat Bilingual 2009
Selama
hidup, mungkin kita kerap berfilsafat. Entah disadari atau yang tidak. Entah yang
diniatkan atau yang mengalir begitu saja. Namun, saya sendiri benar – benar mengenal
filsafat secara formal ketika kuliah ini. Sebagai orang baru yang mempelajari filsafat,
saya sendiri mengalami kesulitan. Baik dalam memahami tulisan tentang filsafat
atau menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan. Berdasarkan penjelasan dari Bapak
Marsigit bahwa komponen dalam berfilsafat adalah rasio/penalaran dan
pengalaman. Mungkin sebagai orang awan, pengalaman yang mimin menyebabkan saya
kesulitan untuk berfilsafat dan memahami filsafat. Namun kesulitan – kesulitan itu
semoga bisa dikurangi sedikit demi sedikit dengan lebih banyak membaca dan
memahami.
Seperti
yang di utarakan oleh Bapak Marsigit, filsafat adalah ilmu tolah pikir yang
refleksif. Filsafat mengajak kita untuk berfikir lebih dalam, mengajak kita
untuk berfikir lebih jernih, atau bahkan mengalir begitu saja tanpa terpandu. Namun,
adakalanya pikiran berlari terlalu liar, dan menimbulkan pertanyaan – pertanyaan
yang kadang tidak bisa di jawab sendiri. Itulah yang kadang saya takutkan. Saat
kita ingin berfikir lebih dalam, kita kerap terjebak dengan pertanyaan –
pertanyaan dan pernyataan – pernyataan yang saling kontradiktif.
Terkadang
saat membaca tulisan tentang filsafat milik orang lain, saya merasa tertohok
dan secara spontan mengingkarinya. Itulah mungkin yang disebut dengan jangkauan
dimensi. Jangkauan dimensi saya yang terbatas dan dangkal menyebabkan saya kurang
bisa mencerna pemikiran orang lain. Tapi, tidak dapat dipungkiri, saat berpikir
lebih dalam, lebih jernih, dan lebih terbuka, hal – hal yang secara sekilas
saya ingkari menjadi hal yang saya sepakati. Lalu saya lantas berfikir, apakah
saya ‘sedang’ terpengaruh dengan pemikiran orang lain? Atau karena
kebenaranlah, saya menyepakati pemikiran orang lain itu?
Lalu,
saya berfikir bahwa filsafat bisa membuat kita lebih peka, dan mengasah pikiran
kita menjadi tajam. Jika selama ini saya hidup ditengah – tengah budaya instant yang cenderung mencetak generasi
yang serba ingin cepat, simple, instant, maka dengan berfilsafat, kita
bisa melatih diri untuk lebih berfikir secara dalam, secara murni, hati – hati,
penuh bertimbangan, dan bahkan memahami kebenaran pemikiran melalui kacamata
orang lain.
Selanjutnya,
saya mulai memahami bahwa berfilsafat dengan pikiran tidaklah cukup. Berfilsafat
dengan pikiran sendiri digabung dengan pikiran orang lain pun masih belum
cukup. Hati, kita perlu mengaktifkan hati dan melatihnya untuk lebih peka dan
jernih. Mungkin keduanya perlu untuk senantiasa berjalan beriringan agar akal
pikiran tidak terlalu liar mengembara. Selain itu agar hal – hal yang tidak
terjangkau oleh akal pikiran dapat lebih mudah dipahami.
Pertanyaan
:
1.
Bagaimanakah filsafat bisa disebut
sesat? Apa yang menyebabkannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Speak Up