Selasa, 25 September 2012

FILSAFAT, MENGASAH KEPEKAAN HATI DAN KETAJAMAN BERPIKIR


REFLEKSI 1- [Kuliah Dr. Marsigit]
Oleh : Wahyu Ramadhani Aji
09301241043
P.Mat Bilingual 2009 

Selama hidup,  mungkin kita kerap berfilsafat.  Entah disadari atau yang tidak. Entah yang diniatkan atau yang mengalir begitu saja.  Namun, saya sendiri benar – benar mengenal filsafat secara formal ketika kuliah ini. Sebagai orang baru yang mempelajari filsafat, saya sendiri mengalami kesulitan. Baik dalam memahami tulisan tentang filsafat atau menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan. Berdasarkan penjelasan dari Bapak Marsigit bahwa komponen dalam berfilsafat adalah rasio/penalaran dan pengalaman. Mungkin sebagai orang awan, pengalaman yang mimin menyebabkan saya kesulitan untuk berfilsafat dan memahami filsafat. Namun kesulitan – kesulitan itu semoga bisa dikurangi sedikit demi sedikit dengan lebih banyak membaca dan memahami. 

Seperti yang di utarakan oleh Bapak Marsigit, filsafat adalah ilmu tolah pikir yang refleksif. Filsafat mengajak kita untuk berfikir lebih dalam, mengajak kita untuk berfikir lebih jernih, atau bahkan mengalir begitu saja tanpa terpandu. Namun, adakalanya pikiran berlari terlalu liar, dan menimbulkan pertanyaan – pertanyaan yang kadang tidak bisa di jawab sendiri. Itulah yang kadang saya takutkan. Saat kita ingin berfikir lebih dalam, kita kerap terjebak dengan pertanyaan – pertanyaan dan pernyataan – pernyataan yang saling kontradiktif.

Terkadang saat membaca tulisan tentang filsafat milik orang lain, saya merasa tertohok dan secara spontan mengingkarinya. Itulah mungkin yang disebut dengan jangkauan dimensi. Jangkauan dimensi saya yang terbatas dan dangkal menyebabkan saya kurang bisa mencerna pemikiran orang lain. Tapi, tidak dapat dipungkiri, saat berpikir lebih dalam, lebih jernih, dan lebih terbuka, hal – hal yang secara sekilas saya ingkari menjadi hal yang saya sepakati. Lalu saya lantas berfikir, apakah saya ‘sedang’ terpengaruh dengan pemikiran orang lain? Atau karena kebenaranlah, saya menyepakati pemikiran orang lain itu?

Lalu, saya berfikir bahwa filsafat bisa membuat kita lebih peka, dan mengasah pikiran kita menjadi tajam. Jika selama ini saya hidup ditengah – tengah budaya instant yang cenderung mencetak generasi yang serba ingin cepat, simple, instant, maka dengan berfilsafat, kita bisa melatih diri untuk lebih berfikir secara dalam, secara murni, hati – hati, penuh bertimbangan, dan bahkan memahami kebenaran pemikiran melalui kacamata orang lain. 

Selanjutnya, saya mulai memahami bahwa berfilsafat dengan pikiran tidaklah cukup. Berfilsafat dengan pikiran sendiri digabung dengan pikiran orang lain pun masih belum cukup. Hati, kita perlu mengaktifkan hati dan melatihnya untuk lebih peka dan jernih. Mungkin keduanya perlu untuk senantiasa berjalan beriringan agar akal pikiran tidak terlalu liar mengembara. Selain itu agar hal – hal yang tidak terjangkau oleh akal pikiran dapat lebih mudah dipahami.

Pertanyaan :
1.   Bagaimanakah filsafat bisa disebut sesat? Apa yang menyebabkannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Speak Up