Minggu, 18 November 2012

FILSAFAT, KINI DAN NANTI

Refleksi 3 Kuliah Filsafat
Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan Matematika Bilingual


            Pada pertemuan ketiga ini, seharusnya saya semakin mengenal filsafat. Karena filsafat tidak hanya dipelajari di dalam kelas saja, tetapi juga dengan membaca elegi – elegi yang ditulis oleh Bapak Marsigit. Namun, semakin saya mempelajari filsafat pikiran saya semakin terbuka, betapa luas jangkauan filsafat. Persoalan filsafat itu apa yang ada didalam pikiran dan yang mungkin ada dalam pikiran. Maka hal itu tak akan ada habisnya kecuali manusia kehilangan kesadarannya untuk berfikir.
            Seperti balita yang mengenal hal baru, maka kami pun penasaran dengan segala hal tentang filsafat. Terima kasih kepad Bapak yang telah menampung pertanyaan – pertanyaan kami. Mendamaikan kecemasan – kecemasan dan ketakutan – ketakutan yang muncul saat berfilsafat. Jawaban yang diberikan sangat membantu kami untuk menambah pengetahuan dan dimensi berpikir.
            Dari sekian banyak pertanyaan yang terlontar, saya tertarik dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan filsafat. Kapan kita bisa memulai berfilsafat? Pak Marsigit menjelaskan bahwa filsafat akan baik apabila pikiran kita jernih (pure) dan juga hati kita bebas dari gangguan. Filsafat dilakukan secara kontinue. Terus menerus hingga mencapai suatu harmoni. Itulah tujuan hidup. Mencapai keseimbangan dalam segala aspek.
            Komponen filsafat terdiri dari pengalaman dan olah pikir. Keduanya merupakan modal untuk berfilsafat. seberapa dalam pemikiran kita, seberapa jernih pemikiran kita, tergantung dari kedalaman kita berpikir dan pengalaman kita. Memang banyaknya pengalaman yang dimiliki setiap manusia itu hampir sama banyaknya. Yang membedakan apakan pengalaman itu menjadi bermakna atau tidak adalah dengan memikirkannya. Setiap pengalaman yang terjadi dalam hidup kita sebaiknya dipikirkan. Dicari hikmahnya. Diperbaiki. Ditingkatkan kualitasnya. Hingga kita menggapai keharmonisan. Itulah hidup.
             Namun, seberapa kuatnya manusia berusaha, manusia hanya bisa menggapai, karena kemultakan itu hanya milik Tuhan. Manusia memang memiliki keterbatasan, tetapi selama manusia bisa terus continue berikhtiar maka manusia akan mencapai level yang lebih tinggi. Hidup sendiri adalah tentang mengubah yang mungki menjadi ada. Mengubah mimpi menjadi nyata. Dan itu akan didapatkan dengan usaha yang ikhlas, continue dan sungguh – sungguh.
            Pertanyaan kedua yang menarik menurut saya tentang bagaimana cara untuk adil? Ya, manusia mendamba keadilan. Entah menuntut keadilan dari Tuhan atau dari orang lain. Padalah tanpa disadari bahwa ketidakadilan itu terus mengikuti manusia hingga mati. Bapak Marsigit menjelaskan dengan cara yang mengena. Mengapa kita lahir dari rahim ibu A? bukan ibu B? mengapa manusia hanya bisa melihat apa yang ada didepannya? Bukankah depan-belakang ini mempuanyai hak yang sama untuk dipandang? Itulah ketidakadilan.
Lalu mengapa kita kerap menuntut adil? Padahal manusia bisa hidup karena ketidakadilan. Tugas manusia adalah berusaha untuk adil, tanpa bisa mencapai adil itu sendiri. Karena adil yang multak hanyalah milik Tuhan. Sekali lagi, manusia hanya berikhtiar hingga menggapai keharmonisan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Speak Up