Refleksi 2 Kuliah
Filsafat
Wahyu
Ramadhani Aji (09301241043)
Pendidikan
Matematika Bilingual
Pada pertemuan kedua ini, seharusnya
saya semakin mengenal filsafat. Karena filsafat tidak hanya dipelajari di dalam
kelas saja, tetapi juga dengan membaca elegi – elegi yang ditulis oleh Bapak
Marsigit. Namun, semakin saya mempelajari filsafat pikiran saya semakin
terbuka, betapa luas jangkauan filsafat. Persoalan filsafat itu apa yang ada
didalam pikiran dan yang mungkin ada dalam pikiran. Maka hal itu tak akan ada
habisnya kecuali manusia kehilangan kesadarannya untuk berfikir.
Seperti balita yang mengenal hal
baru, maka kami pun penasaran dengan segala hal tentang filsafat. Terima kasih
kepad Bapak yang telah menampung pertanyaan – pertanyaan kami. Mendamaikan
kecemasan – kecemasan dan ketakutan – ketakutan yang muncul saat berfilsafat.
Jawaban yang diberikan sangat membantu kami untuk menambah pengetahuan dan
dimensi berpikir.
Dari sekian banyak pertanyaan yang
terlontar, saya tertarik dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan
filsafat. Kapan kita bisa memulai berfilsafat? Pak Marsigit menjelaskan bahwa
filsafat akan baik apabila pikiran kita jernih (pure) dan juga hati kita bebas dari gangguan. Filsafat dilakukan
secara kontinue. Terus menerus hingga mencapai suatu harmoni. Itulah tujuan
hidup. Mencapai keseimbangan dalam segala aspek.
Komponen filsafat terdiri dari
pengalaman dan olah pikir. Keduanya merupakan modal untuk berfilsafat. seberapa
dalam pemikiran kita, seberapa jernih pemikiran kita, tergantung dari kedalaman
kita berpikir dan pengalaman kita. Memang banyaknya pengalaman yang dimiliki
setiap manusia itu hampir sama banyaknya. Yang membedakan apakan pengalaman itu
menjadi bermakna atau tidak adalah dengan memikirkannya. Setiap pengalaman yang
terjadi dalam hidup kita sebaiknya dipikirkan. Dicari hikmahnya. Diperbaiki.
Ditingkatkan kualitasnya. Hingga kita menggapai keharmonisan. Itulah hidup.
Namun, seberapa kuatnya manusia berusaha,
manusia hanya bisa menggapai, karena kemultakan itu hanya milik Tuhan. Manusia
memang memiliki keterbatasan, tetapi selama manusia bisa terus continue berikhtiar maka manusia akan
mencapai level yang lebih tinggi. Hidup sendiri adalah tentang mengubah yang
mungki menjadi ada. Mengubah mimpi menjadi nyata. Dan itu akan didapatkan
dengan usaha yang ikhlas, continue dan sungguh – sungguh.
Pertanyaan kedua yang menarik
menurut saya tentang bagaimana cara untuk adil? Ya, manusia mendamba keadilan.
Entah menuntut keadilan dari Tuhan atau dari orang lain. Padalah tanpa disadari
bahwa ketidakadilan itu terus mengikuti manusia hingga mati. Bapak Marsigit
menjelaskan dengan cara yang mengena. Mengapa kita lahir dari rahim ibu A?
bukan ibu B? mengapa manusia hanya bisa melihat apa yang ada didepannya?
Bukankah depan-belakang ini mempuanyai hak yang sama untuk dipandang? Itulah ketidakadilan.
Lalu mengapa kita kerap menuntut adil? Padahal
manusia bisa hidup karena ketidakadilan. Tugas manusia adalah berusaha untuk
adil, tanpa bisa mencapai adil itu sendiri. Karena adil yang multak hanyalah
milik Tuhan. Sekali lagi, manusia hanya berikhtiar hingga menggapai
keharmonisan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Speak Up