DEVELOPING SCHOOL-BASED CURRICULUM
FOR JUNIOR HIGH SCHOOL MATHEMATICS
IN INDONESIA
By
Marsigit
Faculty of Mathematics and Science, the State University of Yogyakarta, Indonesia
Review by : Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)
Blog : wahyu25ramadhan.blogspot.com
Pemerintah Indonesia mulai mencanangkan kurikulum baru bernama KTSP sejak tahun pelajaran 2006/2007. Kebijakan ini tentu membawa angin baru bagi sistem pendidikan di Indonesia. Sejumlah perombakan menuju arah perbaikan dilakukan. Hal yang nyata adalah program otonomi pendidikan, mengembangkan silabus, meningkatkan kompetensi guru, peningkatan fasilitas pendidikan, anggaran pendidikan, sistem evalusi, dan jaminan kualitas.
Dibalik dibentuknya kurikulum baru selalu ada hal yang unik yang menbedakan kurikulum yang satu dan lainnya. Misalnya untuk kurikulum 1994 materi pelajaran terpusat dari pemerintah, yaitu sekitar 80 persen, sedangkan sisanya adalah pengembangan lokal. Sementara untuk KTSP materi lebih banyak dikembangkan oleh sekolah yang bersangkutan, yaitu sekitar 80 persen. Sedangkan pemerintah pusat hanya memberikan rambu – rambu tentang standar kompetensi yang diberikan.
Kurikulum baru ini diharapkan dapat menginspirasi guru untuk mengubah paradigm mengajar. Guru dapat mengevaluasi kekuatan dan kelemahan berbagai macam pendekatan belajar. Harapanya kurikulum ini memberikan nafas baru bagi siswa, yaitu siswa merasa senang dengan proses pembelajaran.
Tetapi dalam pelaksanaannya kurikulum ini masih belum optimal. Hal ini karena kurang dukungan maksimal dari siswa, guru maupun masyarakat sekitar. Selain pihak sekolah, pemerintah pun perlu untuk membantu mensukseskan kurikulum ini. Usaha pemerintah yang dapat dilakukan adalah menegaskan kembali perran guru terhadap siswa, mensosiasliasikan kepada kepala sekolah untuk mengikutkan gurunya dalam kegiatan seminar, mensosialisikan penerapan KTSP di sekolah – sekolah, perlunya mengatur guru dan pengewas yang sesuai latar belakang pendidikannya, mempopulerkan sistem kerjasama antara sekolah dengan universitas, dan memperbaiki sistem evaluasi pendidkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Speak Up