Rabu, 14 September 2011

Supporting Evidences And Monitoring To Develop School-Based Curriculum For Junior High School Mathematics In Indonesia

Supporting Evidences And Monitoring To Develop School-Based Curriculum For Junior High School Mathematics In Indonesia
by : Marsigit
Departmen of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Science,
Yogyakarta State University, Indonesia
marsigitina@yahoo.com
reviewed by : Wahyu Ramadhani Aji (09301241043)

Cita – cita mulia bangsa indonesia yang tertuang dalam UUD 1945 antara lain mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rangka mewujudkannya, sejak tahun 1968/1969 pemerintah Indonesia memulai usaha untuk memajukan pendidikan.  Tetapi pada tahun 1984 usaha tersebut kurang berhasil dan tidak mencakup seluruh kehidupan bangsa. Hingga pada akhir 1990 pendidikan didesain sedemikian sehingga tujuan pendidikan nasioanal Indonesia dapat dijabarkan kedalam tingkat yang lebih kecil (siswa) dimana siswa dapat belajar sesuai kebutuhannya. Selain itu peran guru dalam meningkatkan kemampuan siswa diusahakan seminimal mungkin.
`Dalam suatu penelitian  (Herawati Susilo, 2003) di indikasikan bahwa kemampuan siswa untuk mata pelajaran matematika dan IPA masih rendah. Hal itu dapat dilihat dari hasil  UN Matematika dan IPA pada siswa SMP dan SMA. Mengapa? Hal – hal berikut bisa jadi penyebabnya: 1) Kegiatan praktek yang kurang;  2) Sedikitnya guru yang menekankan pada proses belajar; 3) Kurikulum yang kurang terorganisir; 4) Syarat administrasi guru yang panjang 5) Sedikitnya alat – alat praktek dan tenaga laboratorium. Selain itu adanya ketimpangan antara tujuan pendidikan, kurikulum dan sistem evaluasi. Paradigma lama itu masih melekat dalam pendidikan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan kerjasama yang baik antara guru dan dosen untuk mengembangkan model permbelajaran yang sesuai. Selain itu kita perlu untuk menerapkan kurikulum yang efektif dan fleksibel. Dalam pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator, guru dibekali dengan kegiatan ilmiah dan training, supervisor sekolah seharusnya mempunyai latar belakang sebagai pendidik pula,  kemandirian guru dalam mengajar. Adanya kerjasama yang baik antara sekolah dan universitas akan berdampak baik bagi kemajuan cara mengajar. Paradigma baru dalam pendidikan perlu diresapi. Sudah saatnya evaluasi merata di aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dan kegiatan belajar berorientasi pada proses bukan hanya hasil.
KTSP yang mulai diperkenalkan pada tahun 2006/2007 dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Pemerintah Indonesia sendiri telah mengembangkan pengajaran kontekstual sebagai usaha untuk mendukung keberadaan KTSP. Pengajaran  yang  dicobakan di SMP kelas 8 ini menekankan pada pemahaman siswa. Siswa secara berkelompok akan  berdiskusi untu mengkonstruksi sendiri. Dalam pelaksanaannya kegiatan ini dimonitoring untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Hasil monitoring ini mengindikasikan bahwa siswa, guru dan masyarakat kurang mendukung kurikulum baru. Harapannya semua pihak dapat membantu dan menfasilitasi demi terwujudnya kemajuan pendidikan nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Speak Up