Tulisan ini sekedar untuk hiburan aja.aku sangat sadar cerpen ini emang sedikit maksa. Dari segi ide cerita dan alur cerita. Bukan lain karena aku gak bisa bikin cerpen (yang baik). Cerpen ini aku persembahkan untuk orang yang belum bisa menerima tentang komentar orang terhadap namanya. Entah karena kesal, sebal, bosen , pengen protes yang jelas cerpen ini koq jadi seperti ini. Maaf kalo tulisanku menyinggung, gak ada maksud apa-apa dengan pemilihan nama tokoh, karakter ataupun tempat.
akhirnya selamat membaca...
ARTI SEBUAH NAMA
Sore itu sekolah sudah sangat sepi, ruang ruang kelas dikunci, lampu lampu mulai dinyalakan. Kantin siap ditinggal pemiliknya yang sedang berkemas untuk pulang. Ruang guru kosong kerena langit mulai lelah menerima sinar matahari.
Hanya ada sedikit keramaian diruang serba guna yang terletak di tengah – tengah sebuah sekolah elit dikawasan Surabaya.
Keramaian itu berasal dari dua pengurus osis yang sedang sibuk mempersiapkan tempat pelaksanaan rapat untuk acara lomba debat bahasa inggris regional. Sebenarnya ada banyak pengurus tadi hingga yang tersisa hanya dua orang karena yang lainnya pulang satu persatu.
Sedangkan Diska masih sibuk memantas mantaskan bagaimana kursi kursi dan meja akan ditata. Dengan keringat yang membanjir karena udara sangat panas, ia masih saja semangat menjalankan kewajibannya itu. Sementara itu dipojok ruangan terlihat Rena dengan setumpuk kertas dihadapannya. Dengan teliti ia memilih berkas berkas yang akan di pakai besok pagi.
“Ren, kamu udah tahu tentang cowok bernama Bryan. Salah satu tamu yang kita undang untuk lomba debat besok?” kata Diska sambil sesekali melenturkan pinggang kekiri dan kanan agar pegalnya hilang.
“ Belum lah, yang mengundang kan bukan aku, tanya aja sama humasnya. Setahuku dia itu salah satu siswa SMA teladan surabaya. Kalo tidak salah kita juga mengundang Pardi kan dalam acara ini” kata Reni yang masih sibuk memilah – milah berkasnya, sesekali ia tangannya dengan lap, karena takut tangan yang berkeringat itu mengotori berkas – berkasnya.
“ Aku jadi penasaran dengan Bryan, dari namanya aja bagus. Gimana orang nya, pasti orang tuanya sangat berpendidikan. Mungkin juga orang itu blasteran dari inggris ya... makanya dia di undang dalam acara lomba debat ini.”
“Ah ada – ada aja kamu Miss analysist”
“Yee biarin aja, aku kan pintar menganalisa. Duagaanku jarang yang meleset tahu..!”
“haha.... kalo tamu yang satunya?” kata Reni yang sengaja membuat Diska semakin besar kepala, dia hapal betul, kalo temannya ditantang seperti itu ia akan mengeluarkan lagi kemampuaan analisis sok tahunya . walaupun diakui juga kalo dugaannya lebih sering benar ketimbang meleset.
“ Maksud kamu Pardi?”
Reni mengangguk tanpa menoleh, ia terlihat fokus pada lembaran kertas itu. Masih bagus ia masih mendengarkan temannya itu.
“Aku gak yakin sama itu anak, dari namnya koq gak enak didengar ya, apalagi ini kan lomba debat bahasa inggris , kecuali kalo lombanya tentang pidato bahasa jawa.”
Kata Diska sok serius. Reni malah tersenyum senyum sendiri melihat ulah temannya itu.
“ Kamu bandingkan dech antara Bryan dan Pardi. Jauh banget kan?? Heran aku sama humas, kenapa dia mengundang orang seperti itu.” Tambahnya
“ Ah kayaknya kamu terlalu memuji muji Bryan dech, dan terlalu merendahkan Pardi”
Kata itu, yang semenjak tadi ditahan oleh Reni akhirnya keluar juga. Tapi yang di kritik bukannya sadar , eh malah tetap pada pendapatnya.
“ Kita lihat besok dech, pasti yang memuji dia bukan hanya aku, tapi kamu juga bakal ikutan kagum” katanya sambil menyelesaikan penataan kursi yang terakhir. Ia duduk disalah satu kursi menunggu Reni menyelesaikan pekerjaannya sambil tangannya sibuk mengibas ngipas wajahnya.
Pukul 17.45, matahari sebentar lagi hilang. Mereka berdua pulang bersiap – siap pulang, menginggal tempat yang menjadi sejarah pertama bagi sekolah mereka sebagai tuan rumah lomba debat. Meninggalkan tempat yang akan sangat ditunngu -tunggu oleh Reni, karena ingin menganal sosok seorang Bryan. Laki laki yang ia puji-puji hanya karena namanya. How does it comes?
***
Ruangan serba guna sudah terlihat ramai sejak pagi tadi. Antusiasme peserta dan tuan rumah campur aduk menjadi satu. Panitia tak kalah sibuk, ia harus stand by di tempat agar segera mengatasi apa – apa yang diperlukan. Terlihat dua remaja sedang menyimak suasana yang ada di dalam ruangan. Ia mendengar seseorang yang sangat cas cis cus dalam bahasa inggris, bicaranya mantap. Ia mampu membayang kan suasana didalam. Pasti perhatian semua peserta sedang fokus padanya. Karena didalam ruangan hanya terdengar suara laki laki itu. Posturnya tinggi, sehingga kepalanya dapat terlihat dari luar. Diska memandang puas. Laki – laki iru. Tebakannya tepat lagi. Sekarang bukan hanya dia yang memuji-muji laki laki itu, tapi juga sahabatnya, Reni pun ikuk- ikutn terpesona dengan laki laki yang sangat berkharisma itu.
“ Nice statement, please give applause for Dewantoro Jagad Maulana Pardi”
Kata kata yang barusan keluar itu sejenak menyadarkan “kematian” para peserta lomba debat yang ada di dalam ruangan. Tak lama terdengar tepuk tangan yang cukup panjang. Kata-kata itu pula yang sekaligus membuat Reni kaget. Apalagi Diska, jangan ditanya. Ia hampir saja menjatuhkan Map yang ada ditangannya.
“ Dewantoro Jagad Maulana Pardi??” lirihnya. Orang tanpa dosa yang kemarin direndahkan oleh Diska, sangat cas cis cus dalam bahasa inggris? Orang menurut Diska namanya meragukan itu berhasil membuat penonton dan dirinya tersihir. Laki laki itu tampan, punya tubuh yang tinggi dan terawat. Penampilannya terlihat bahwa ia mempunyai selera yang tinggi. Sopan tapi tetap berkelas. Itu semua mulik Pardi. Lalu dimana Brian? Laki – laki yang dalam bayangannya seperti sosok Pardi.
“ Kita berikan applause juga untuk Brian dari SMA Teladan”
Diska tersentak dari lamunannya. Dirinya berusaha meninggikan kepalanya agar bisa melihat apa yang ada didalam. Betapa kagetnya ia bahwa Brian tidak seperti apa yang ia harapkan. Gaya bicaranya biasa, penampilannya kurang menarik dan yang lebih mengegetkannya lagi ternyata Eka Pramesty Bryan itu adalah PEREMPUAN.
akhirnya selamat membaca...
ARTI SEBUAH NAMA
Sore itu sekolah sudah sangat sepi, ruang ruang kelas dikunci, lampu lampu mulai dinyalakan. Kantin siap ditinggal pemiliknya yang sedang berkemas untuk pulang. Ruang guru kosong kerena langit mulai lelah menerima sinar matahari.
Hanya ada sedikit keramaian diruang serba guna yang terletak di tengah – tengah sebuah sekolah elit dikawasan Surabaya.
Keramaian itu berasal dari dua pengurus osis yang sedang sibuk mempersiapkan tempat pelaksanaan rapat untuk acara lomba debat bahasa inggris regional. Sebenarnya ada banyak pengurus tadi hingga yang tersisa hanya dua orang karena yang lainnya pulang satu persatu.
Sedangkan Diska masih sibuk memantas mantaskan bagaimana kursi kursi dan meja akan ditata. Dengan keringat yang membanjir karena udara sangat panas, ia masih saja semangat menjalankan kewajibannya itu. Sementara itu dipojok ruangan terlihat Rena dengan setumpuk kertas dihadapannya. Dengan teliti ia memilih berkas berkas yang akan di pakai besok pagi.
“Ren, kamu udah tahu tentang cowok bernama Bryan. Salah satu tamu yang kita undang untuk lomba debat besok?” kata Diska sambil sesekali melenturkan pinggang kekiri dan kanan agar pegalnya hilang.
“ Belum lah, yang mengundang kan bukan aku, tanya aja sama humasnya. Setahuku dia itu salah satu siswa SMA teladan surabaya. Kalo tidak salah kita juga mengundang Pardi kan dalam acara ini” kata Reni yang masih sibuk memilah – milah berkasnya, sesekali ia tangannya dengan lap, karena takut tangan yang berkeringat itu mengotori berkas – berkasnya.
“ Aku jadi penasaran dengan Bryan, dari namanya aja bagus. Gimana orang nya, pasti orang tuanya sangat berpendidikan. Mungkin juga orang itu blasteran dari inggris ya... makanya dia di undang dalam acara lomba debat ini.”
“Ah ada – ada aja kamu Miss analysist”
“Yee biarin aja, aku kan pintar menganalisa. Duagaanku jarang yang meleset tahu..!”
“haha.... kalo tamu yang satunya?” kata Reni yang sengaja membuat Diska semakin besar kepala, dia hapal betul, kalo temannya ditantang seperti itu ia akan mengeluarkan lagi kemampuaan analisis sok tahunya . walaupun diakui juga kalo dugaannya lebih sering benar ketimbang meleset.
“ Maksud kamu Pardi?”
Reni mengangguk tanpa menoleh, ia terlihat fokus pada lembaran kertas itu. Masih bagus ia masih mendengarkan temannya itu.
“Aku gak yakin sama itu anak, dari namnya koq gak enak didengar ya, apalagi ini kan lomba debat bahasa inggris , kecuali kalo lombanya tentang pidato bahasa jawa.”
Kata Diska sok serius. Reni malah tersenyum senyum sendiri melihat ulah temannya itu.
“ Kamu bandingkan dech antara Bryan dan Pardi. Jauh banget kan?? Heran aku sama humas, kenapa dia mengundang orang seperti itu.” Tambahnya
“ Ah kayaknya kamu terlalu memuji muji Bryan dech, dan terlalu merendahkan Pardi”
Kata itu, yang semenjak tadi ditahan oleh Reni akhirnya keluar juga. Tapi yang di kritik bukannya sadar , eh malah tetap pada pendapatnya.
“ Kita lihat besok dech, pasti yang memuji dia bukan hanya aku, tapi kamu juga bakal ikutan kagum” katanya sambil menyelesaikan penataan kursi yang terakhir. Ia duduk disalah satu kursi menunggu Reni menyelesaikan pekerjaannya sambil tangannya sibuk mengibas ngipas wajahnya.
Pukul 17.45, matahari sebentar lagi hilang. Mereka berdua pulang bersiap – siap pulang, menginggal tempat yang menjadi sejarah pertama bagi sekolah mereka sebagai tuan rumah lomba debat. Meninggalkan tempat yang akan sangat ditunngu -tunggu oleh Reni, karena ingin menganal sosok seorang Bryan. Laki laki yang ia puji-puji hanya karena namanya. How does it comes?
***
Ruangan serba guna sudah terlihat ramai sejak pagi tadi. Antusiasme peserta dan tuan rumah campur aduk menjadi satu. Panitia tak kalah sibuk, ia harus stand by di tempat agar segera mengatasi apa – apa yang diperlukan. Terlihat dua remaja sedang menyimak suasana yang ada di dalam ruangan. Ia mendengar seseorang yang sangat cas cis cus dalam bahasa inggris, bicaranya mantap. Ia mampu membayang kan suasana didalam. Pasti perhatian semua peserta sedang fokus padanya. Karena didalam ruangan hanya terdengar suara laki laki itu. Posturnya tinggi, sehingga kepalanya dapat terlihat dari luar. Diska memandang puas. Laki – laki iru. Tebakannya tepat lagi. Sekarang bukan hanya dia yang memuji-muji laki laki itu, tapi juga sahabatnya, Reni pun ikuk- ikutn terpesona dengan laki laki yang sangat berkharisma itu.
“ Nice statement, please give applause for Dewantoro Jagad Maulana Pardi”
Kata kata yang barusan keluar itu sejenak menyadarkan “kematian” para peserta lomba debat yang ada di dalam ruangan. Tak lama terdengar tepuk tangan yang cukup panjang. Kata-kata itu pula yang sekaligus membuat Reni kaget. Apalagi Diska, jangan ditanya. Ia hampir saja menjatuhkan Map yang ada ditangannya.
“ Dewantoro Jagad Maulana Pardi??” lirihnya. Orang tanpa dosa yang kemarin direndahkan oleh Diska, sangat cas cis cus dalam bahasa inggris? Orang menurut Diska namanya meragukan itu berhasil membuat penonton dan dirinya tersihir. Laki laki itu tampan, punya tubuh yang tinggi dan terawat. Penampilannya terlihat bahwa ia mempunyai selera yang tinggi. Sopan tapi tetap berkelas. Itu semua mulik Pardi. Lalu dimana Brian? Laki – laki yang dalam bayangannya seperti sosok Pardi.
“ Kita berikan applause juga untuk Brian dari SMA Teladan”
Diska tersentak dari lamunannya. Dirinya berusaha meninggikan kepalanya agar bisa melihat apa yang ada didalam. Betapa kagetnya ia bahwa Brian tidak seperti apa yang ia harapkan. Gaya bicaranya biasa, penampilannya kurang menarik dan yang lebih mengegetkannya lagi ternyata Eka Pramesty Bryan itu adalah PEREMPUAN.
artikelnya bags :-D
BalasHapusmampir juga ya di
http://yunendrabangunmulya.blogspot.com/
semoga artikelnya bermanfaaaaat
Itu cerpen sebenernya.......... hhe..
HapusOk salam kenal